Akibat Dosa

0
Posted June 1, 2012 by admin in Kekatolikan
photo-2

Apakah efek dari dosa?

Seperti 10 perintah Allah yang “dibagi” menjadi dua, yaitu kasih kepada Tuhan dalam perintah 1-3, dan kasih kepada sesama dalam perintah 4-10, maka dosa juga mempunyai dua efek, yaitu: efek vertikal dan efek horisontal. Efek vertikal mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sedangkan efek horisontal mempengaruhi hubungan kita dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa tidak ada dosa yang bersifat pribadi. Semua dosa kalau kita telusuri akan mempunyai dimensi sosial. Kita lihat saja dari hal yang sederhana, misalkan seorang ayah yang sering marah-marah di rumah akan mempengaruhi seluruh anggota di rumahnya, menyebabkan istri dan anak-anak ketakutan. Yang lebih parah, anak-anak pun dapat tumbuh sebagai pemarah.

Contoh lain: sebagai orang Katolik, apabila kita berdosa, kita tidak hanya bersalah kepada Tuhan saja sebagai pemilik Gereja, tetapi juga kepada seluruh anggota Gereja. Dulu sebelum abad ke-6, pengakuan dosa dilakukan di depan umum sebagai tanda bahwa seseorang yang berdosa, bersalah juga terhadap anggota2 Gereja yang lain. Sekarang karena tidak memungkinkan pengakuan dosa di depan umum ini dilakukan, maka kita cukup mengaku dosa terhadap imam sebagai gembala umat. Ini juga salah satu alasan kenapa kita harus mengaku dosa kepada imam.

Atau contoh yang lain, yaitu dosa manusia pertama, menghasilkan dosa asal, yang menyebabkan terputusnya persatuan antara manusia dengan Tuhan, dan pada saat yang sama membawa dosa asal bagi seluruh umat manusia (Rom 5:12). Sebagai akibat dari dosa Adam (Kej 3:1-6), manusia kehilangan:

(1)   rahmat kekudusan

(2)   empat berkat “preternatural“, yang terdiri dari

  1. keabadian atau “immortality
  2. tidak adanya penderitaan
  3. pengetahuan akan Tuhan atau “infused knowledge
  4. berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason).

Karena kehilangan berkat-berkat tersebut, maka manusia mempunyai concupiscense (KGK, 2515) atau “the tinder of sin” (KGK, 1264), atau kecenderungan untuk berbuat dosa, di mana manusia harus berjuang terus untuk menundukkan keinginan daging. St. Paulus menyebutnya sebagai nafsu kedagingan yang berlawanan dengan keinginan Roh (Lih Gal 5:16-17, Gal 5:24; Ef 2:3). Manusia tidak dapat melawan semuanya ini tanpa berkat dari Tuhan yang memampukan manusia untuk “berkata tidak” terhadap dosa. Karena dosa pertama dari Adam adalah dosa kesombongan, maka kerendahan hati adalah penawar dari dosa yang memampukan manusia untuk menerima berkat dari Tuhan secara berlimpah.

Sumber:

http://katolisitas.org/218/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1

http://katolisitas.org/222/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2


About the Author

admin


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response

(required)