Api Penyucian

0
Posted June 1, 2012 by admin in Kekatolikan
Purgatory-2

Pertanyaan:

  1. Apakah dengan adanya api penyucian, semua orang bisa bebas berbuat dosa? Karena nanti pasti akan masuk surga setelah dibereskan di api penyucian.
  2. Apa dasar alkitabnya api penyucian?

Jawaban no 1:

Manusia terdiri dari bagian yang kelihatan (yang kita sebut tubuh), dan yang tidak kelihatan (http://katolisitas.org/2008/11/04/perbedaan-tubuh-jiwa-dan-roh/

Bagian yang tidak kelihatan ini yang kita sebut jiwa ATAU roh. Sering juga yang tidak kelihatan ini dibagi menjadi 2 lagi, yaitu jiwa DAN roh. Pembagian manusia menjadi tubuh dan jiwa mengikuti kebiasaan Yahudi, sedangkan pembagian manusia menjadi tubuh, jiwa dan roh mengikuti kebiasaan Yunani (itu sebabnya St Paulus juga membagi manusia menjadi tiga bagian (bukan mutilasi) dalam surat2nya karena St Paulus berpendidikan Yunani).

Jika bagian yang tidak kelihatan ini dibagi lagi menjadi dua, maka biasanya jiwa mewakili keinginan untuk menuruti kedagingan dan menjauh dari Allah, sedangkan roh mewakili keinginan untuk selalu mendekat kepada Allah dan yang berhubugan dengan Roh Kudus). Kedua macam pembagian ini bisa diterima oleh Gereja Katolik dan yang mana yang mau kita ikuti itu sama sekali bukan masalah.

Pada saat manusia itu meninggal, bagiannya yang tidak kelihatan (jiwa/rohnya) akan meninggalkan tubuh dan langsung diadili. Tubuhnya sendiri akan hancur. Sesudah diadili, jiwa atau roh itu akan masuk entah ke surga atau api penyucian atau ke neraka (http://katolisitas.org/2009/01/13/apa-yang-terjadi-setelah-kematian/).

Lalu apa kriteria seseorang masuk ke surga, neraka atau api penyucian?

Perbuatan kasih seseorang yang didasari iman inilah yang menjadi ukuran pada hari Penghakiman, apakah kasih kita sudah sempurna sehingga kita dapat masuk surga atau sebaliknya, ke neraka. Ataukah karena kasih kita belum sempurna, maka kita perlu disempurnakan dahulu di dalam suatu tempat/ kondisi yang ketiga, yaitu yang kita kenal sebagai Api Penyucian. (http://katolisitas.org/2008/11/28/bersyukurlah-ada-api-penyucian/)

Seperti apa kasih yang sempurna itu dan bagaimana agar dapat melakukannya?

Karena kasih itu berasal dari Allah (1 Yoh 4:7) dan Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), maka caranya agar dapat mengasihi seperti Allah mengasihi adalah dengan mengenal Allah (1 Yoh 4:7).

Bagaimana kita bisa mengenal Allah?

Dengan mendekatkan diri kepada Allah dengan cara:

  • Berkomunikasi dengan Allah setiap saat. Bukan hanya waktu kita bangun tidur, akan tidur, sebelum makan dan hanya pada waktu ke gereja. Selain itu komunikasi yang baik bukan hanya memohon dan meminta sesuatu. Ini tidak dilarang, tapi kita juga harus menahan diri untuk memberi kesempatan Allah memberitahukan apa yang Ia ingin kita lakukan. Apa yang Ia ingin kita lakukan inilah yang menuntun kita untuk bisa mengasihi seperti Allah. Dan pada akhirnya, kasih kita akan semakin sempurna.
  • Lalu bagaimana mengetahui apa yang Allah inginkan? Secara singkat, Allah selalu menginginkan agar kita hidup tidak hanya untuk diri kita, kenyamanan kita dan kenikmatan kita sendiri. Allah juga selalu mendorong kita untuk mengalahkan keinginan-keinginan daging (Galatia 5:19-21). Keinginan daging berfokus pada mengasihi, memuaskan dan menyenangkan diri sendiri saja. Dan kasih seperti ini adalah bentuk kasih yang tidak sempurna yang tidak dapat dipersatukan dengan Allah.
  • Mengalahkan keinginan daging yang cenderung memuaskan diri sendiri berarti berkorban. Dan yang namanya berkorban pasti menderita. Contoh: kita menahan diri untuk tidak menyumpahi orang yang menyerempet mobil kita, kita menahan diri untuk tidak bangun kesiangan karena akan menghadiri Misa Minggu pagi, kita menahan lapar karena kita ingin mempersiapkan diri untuk menyambut Paskah, menuruti dorongan untuk membantu orang lain yang membutuhkan padahal kita merasa diri kita sedang lelah dll. Kita menderita pada saat kita melakukannya (menahan diri). Namun apabila sudah selesai, penderitaan kita digantikan oleh sukacita yang besar.

Setiap bentuk pengendalian diri seperti itu bertujuan menekan keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dan mengalihkan perhatian kita kepada Tuhan atau melayani orang lain. Semakin sering kita melupakan keinginan yang berlebihan untuk menyenangkan diri sendiri, semakin besar sukacita kita dan perhatian kita akan semakin terarah pada Tuhan.

Apabila seseorang meninggal dan ia ingin bersatu dengan Tuhan namun masih ada sisa-sisa keinginan untuk menyenangkan dirinya sendiri, ia masih bisa masuk ke surga, hanya saja ia masih perlu “dikarantina” di api penyucian dahulu. Hanya jika seseorang itu sama sekali menolak Tuhan, maka ia sendiri yang menempatkan dirinya di neraka.

Bagaimana seseorang bisa sama sekali menolak Tuhan? Dengan meneruskan kebiasaan-kebiasaan yang mementingkan diri sendiri. Sikap mementingkan diri sendiri inilah yang merupakan sumber kejahatan.

Kurang lebih kondisi di api penyucian saya gambarkan seperti ini: Si A meninggal dunia dan meskipun ia berbuat banyak dosa (akar dosa ialah mementingkan diri sendiri) selama hidupnya, ia menyesali semua dosa-dosanya itu dan tetap ingin bersatu dengan Tuhan di surga.

Namun karena masih ada sisa-sisa mementingkan diri sendiri yang belum hilang (kadang-kadang kalau diserempet mobilnya masih mengutuki, malas berdoa, dll), maka A tidak bisa langsung masuk ke surga. Karena di surga semua orang perhatiannya tertuju kepada Allah. Maka, ia tidak dapat melewati “pintu surga” dan harus menunggu di luar karena ia masih belum bisa masuk.

Bagaimana dengan neraka? A tidak bisa masuk ke neraka karena ia ingin bersatu dengan Tuhan, ia sendiri tidak mau ke neraka sehingga neraka bukanlah tujuannya.

Di luar “pintu surga”, si A hanya bisa menunggu dan semakin lama ia menunggu, semakin besar pula kerinduannya, pengharapannya untuk bisa masuk. Kerinduan ini bertumbuh semakin besar hingga akhirnya si A jadi melupakan keinginan untuk menyenangkan dirinya sendiri dan digantikan hanya oleh kerinduan untuk bersatu dengan Tuhan. Kerinduan ini sedemikian besarnya sehingga selama belum terpenuhi menimbulkan perasaan tersiksa yang amat sangat (seperti kalau kita merindukan, kangen dengan seseorang namun di api penyucian besarnya berkali-kali lipat karena yang kita rindukan adalah Tuhan. Ada juga yang mengatakan bahwa “siksaan batin” di api penyucian ini lebih menyiksa daripada di neraka, meskipun sifatnya hanya sementara). Namun, setelah si A murni dipenuhi hanya oleh keinginan untuk bersatu dengan Tuhan, maka “pintu surga” segera terbuka untuknya. Ingat, penderitaan yang bertujuan untuk mematikan keinginan daging hanya berlangsung sementara. Setelah itu kita akan merasakan sukacita yang besar. Nah, api penyucian inilah tempat untuk menuntaskan sisa-sisa keinginan daging yang masih ada.

Lalu bagaimana agar kita terhindar dari api penyucian setelah mati (laungsung masuk surga) atau jika pun masih harus dimurnikan di api penyucian, toh  tidak lama? Mulailah dari sekarang, ketika masih hidup di dunia. Matikanlah keinginan yang berlebihan untuk menyenangkan diri sendiri dan gantikan dengan keinginan untuk menyenangkan Tuhan (dengan melayani orang lain dan melayani diri sendiri secara seimbang). Intinya mengasihi! Yaitu  mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Motivasi megasihi ialah karena kita lebih dahulu dikasihi dan diberi benih keselamatan kekal dengan baptisan yang dipelihara dan dikembangkan dengan penerimaan sakramen-sakramen. Karena itu, kita terdorong dari dalam untuk mengajak sesama selamat dengan berbuat kasih kerpada mereka sebagai ungkapan syukur pada Tuhan, serta berdoa syukur selalu dan mendoakan sesama, di samping kebutuhan kita sendiri, termasuk mendoakan sesama yang sudah meninggal.

Bagaimana kita mengetahui apakah kita sudah tidak mengutamakan diri sendiri? Tidak ada ukuran yang pasti, namun yang berikut ini bisa dijadikan masukan. Jika kita melayani orang lain dan berbuat baik supaya kita bisa cepat masuk surga, bukan karena kita ingin orang lain juga merasakan kasih Tuhan, maka itu berarti kita masih memikirkan diri sendiri dan nantinya perlu “dikarantina” dulu di api penyucian sebelum masuk ke surga.

Selain itu, seseorang yang berada dalam api penyucian bisa dibantu dengan doa-doa mereka yang masih hidup di dunia (http://katolisitas.org/2008/11/28/bersyukurlah-ada-api-penyucian/).

Tiga hal tentang api penyucian (http://katolisitas.org/2008/11/28/bersyukurlah-ada-api-penyucian/):

  1. Hanya orang yang belum sempurna dalam rahmat yang dapat masuk ke dalam Api Penyucian. Api Penyucian bukan merupakan kesempatan kedua bagi mereka yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat dari dosa berat.
  2. Api Penyucian ada untuk memurnikan dan memperbaiki. Akibat dari dosa dibersihkan, dan hukuman/ konsekuensi dosa ‘dilunasi’.
  3. Api Penyucian itu hanya sementara. Setelah disucikan di sini, jiwa-jiwa dapat masuk surga. Semua yang masuk Api Penyucian ini akan masuk surga. Api Penyucian tidak ada lagi pada akhir jaman, sebab setelah itu yang ada hanya tinggal Surga dan neraka.

Jadi, menanggapi pertanyaan nomor 2 diatas yang menanyakan apakah dengan adanya api penyucian, maka semua orang bisa bebas berbuat dosa karena nanti pasti masuk surga setelah melewati api penyucian, maka saya menyimpulkan bahwa api penyucian tidak dapat menolong mereka yang hidupnya dipenuhi kejahatan dan tidak ingin mendekat pada Allah. Sebab api penyucian diperuntukkan hanya bagi orang-orang yang ingin dekat dengan Allah dan oleh karenanya akan masuk surga. Dan setiap orang yang dekat dengan Allah pasti memiliki kesadaran dan kemauan untuk menjauhi kejahatan.

 

Lalu untuk nomor 2:

Keberadaaan Api Penyucian bersumber dari ajaran Kitab Suci, yaitu dalam beberapa ayat berikut ini:

1. “Tidak akan masuk ke dalamnya [surga] sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus (Is 6:3). Maka kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16), sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Melihat bahwa memang tidak mungkin orang yang ‘setengah kudus’ langsung masuk surga, maka sungguh patut kita syukuri jika Allah memberikan kesempatan pemurnian di dalam Api Penyucian.

2. Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “…tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 12:32) Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

3. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada akhirnya segala pekerjaan kita akan diuji oleh Tuhan. “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Kor 3:15) Api ini tidak mungkin merupakan api neraka, sebab dari api neraka tidak ada yang dapat diselamatkan. Api ini juga bukan surga, sebab di surga tidak ada yang ‘menderita kerugian’. Sehingga ‘api’ di sini menunjukkan adanya kondisi tengah-tengah, di mana jiwa-jiwa mengalami kerugian sementara untuk mencapai surga.

4. Rasul Petrus juga mengajarkan bahwa pada akhir hidup kita, iman kita akan diuji, “…untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan… pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Pet 1:7). Rasul Petrus juga mengajarkan,

“Kristus telah mati untuk kita … Ia, yang yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan oleh Roh, dan di dalam Roh itu pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara, yaitu roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah…” (1 Pet 3: 18-20). Roh-roh yang ada di dalam penjara ini adalah jiwa-jiwa yang masih terbelenggu di dalam ‘tempat’ sementara, yang juga dikenal dengan nama ‘limbo of the fathers’ (‘limbo of the just‘). Selanjutnya Rasul Petrus juga mengatakan bahwa “Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati supaya oleh roh, mereka dapat hidup menurut kehendak Allah” (1 Pet 4:6). Di sini Rasul Petrus mengajarkan adanya tempat ketiga selain surga dan neraka, yaitu yang kini disebut sebagai Api Penyucian.

5. Kitab 2 Makabe 12: 38-45 adalah yang paling jelas menceritakan dasar pengajaran mengenai Api Penyucian ini. Ketika Yudas Makabe dan anak buahnya hendak menguburkan jenazah pasukan yang gugur di pertempuran, mereka menemukan adanya jimat dan berhala kota Yamnia pada tiap jenazah itu. Maka Yudas mengumpulkan uang untuk dikirimkan ke Yerusalem, untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Perbuatan ini dipuji sebagai “perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan” (ay.43); sebab perbuatan ini didasari oleh pengharapan akan kebangkitan orang-orang mati. Korban penebus salah ini ditujukan agar mereka yang sudah mati itu dilepaskan dari dosa mereka (ay. 45).
Memang saudara-saudari kita yang Protestan tidak mengakui adanya Kitab Makabe ini, namun ini tidak mengubah tiga kenyataan penting: Pertama, bahwa penghapusan Kitab Makabe ini sejalan dengan doktrin Protestan yang mengatakan bahwa keselamatan hanya diperoleh dengan iman saja atau “Sola Fide, Salvation by faith alone”, walaupun Alkitab tidak menyatakan hal itu. Sebab kata ‘faith alone’/ ‘hanya iman’ yang ada di Alkitab malah menyebutkan sebaliknya, yaitu “…bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”/ not by faith alone (Yak 2:24). Maka, berdoa bagi orang meninggal yang termasuk sebagai perbuatan kasih, menurut Luther tidak mempengaruhi keselamatan, sedangkan menurut Gereja Katolik itu merupakan hal yang mulia, yang jika dilakukan di dalam iman, akan membawa kita dan orang-orang yang kita doakan kepada keselamatan oleh karena kasih karunia Tuhan Yesus.
Kedua, tradisi berdoa bagi jiwa orang-orang yang sudah meninggal merupakan tradisi Yahudi, yang dimulai pada abad ke-1 sebelum Masehi, sampai sekarang. Maka, tradisi ini juga bukan tradisi yang asing bagi Yesus. Ketiga, Kitab Makabe ini bukan rekayasa Gereja Katolik, sebab menurut sejarah, kitab ini sudah selesai ditulis antara tahun 104-63 sebelum masehi. Karena itu kita dapat meyakini keaslian isi ajarannya. Lebih lanjut tentang hal ini, silakan klik di sini.

6. Rasul Paulus mendoakan sahabatnya Onesiforus yang rajin mengunjunginya sewaktu ia dipenjara, agar Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada sahabatnya itu ‘pada hari penghakiman’ (lihat 2 Tim 1:16-18). Rasul Paulus berdoa agar Tuhan berbelas kasihan kepada jiwa sahabatnya itu pada saat kematiannya.[1] Hal ini tentu tidak masuk akal jika doa yang dipanjatkan untuk orang yang meninggal tidak ada gunanya. Sebaliknya, ini merupakan contoh bahwa doa-doa berguna bagi orang-orang yang hidup dan yang mati. Tradisi para rasul mengajarkan demikian. Selanjutnya tentang Onesiforus (bahwa ia sudah wafat) sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.


About the Author

admin


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response

(required)