Misa dan Wahyu

0
Posted June 1, 2012 by admin in Kekatolikan
02wyd-popepray

Saat mendengar kitab Wahyu (Revelation : penyingkapan), sebagian besar umat langsung membayangkan hari kiamat, ramalan-ramalan, dan pemandangan akhir jaman yang dramatis. Banyak spekulasi dan tafsiran juga telah dikemukakan, mulai dari ramalan akan akhir dunia, perkiraan pihak antikristus di jaman modern, hingga tuduhan kurang bertanggung jawab yang ditujukan pada pihak-pihak tertentu. Namun, pernahkah kita tahu bahwa sebenarnya kitab yang penuh simbol ini berbicara mengenai peristiwa luar biasa yang nampak biasa bagi kita : Misa Kudus?

Misa Kudus (Ite, missa est [Lat]: pergilah, kita diutus) merupakan puncak perayaan iman Katolik karena disana Gereja menyambut Kristus sendiri, yang benar-benar hadir dalam hosti (hostia [Yun]: kurban) dan anggur, sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Sebagaimana Paskah Yahudi membawa umat Israel turut hadir di malam eksodus saat tulah kesepuluh menyelamatkan bangsa Israel dari Mesir, Misa membawa Gereja, Israel baru, ke meja perjamuan terakhir dan penggenapan di bawah kaki salib yang menyelamatkan dari dosa dan maut. Seluruh isi Misa terlukiskan dengan jelas dalam kitab Wahyu. Ya, kitab ini bicara mengenai Surga, yakni Surga yang turun ke bumi dalam misa, tentang punca penggenapan Perjanjian Lama dan Baru, serta Parousia Kristus yang tidak pernah terpikirkan di zaman ini.

Misa : Liturgi Kosmis Abadi yang Terselubung

Saat ini, Gereja masih dalam keadaan terselubung, tertutup dari realita-realita yang sebenarnya terjadi namun tidak tertangkap oleh indra manusia. Dalam Wahyu, St. Yohanes Rasul menceritakan penyingkapan selubung ini, sebagaimana yang beliau alami. Pada hari Tuhan (Why 1:10, hari Minggu; hari dimana Yesus bangkit dari kubur), Allah menunjukkan padanya apa yang sedang terjadi di Surga. Sang kudus melihat tua-tua berpakaian imam (Why 4:4), lalu melihat terbukanya Gulungan-gulungan Sabda Ilahi (Why 5:6) sebelum Perjamuan Anak Domba Allah. St. Yohanes juga melihat bahwa di sekeliling tahta itu para malaikat tanpa henti memadahkan,”Kudus, kudus, kuduslah Tuhan!” (Why 4:8) dan para martir Allah (martyr (yun); saksi) dari bawah altar (Why 6:9). Ia juga menyaksikan asap dupa naik ke hadirat Allah (Why 8:3) dan mendengar malaikat berkata,”Berbahagialah yang diundang ke perjamuan Anak Domba Allah” (Why 19:9).

Hal-hal tersebut adalah sebagian dari liturgi surgawi yang digambarkan dalam kitab Wahyu, dan peristiwa-peristiwa tersebut (yang sungguh sangat familiar) dijumpai dalam Misa. Misa adalah saat dimana Surga turun ke bumi. Apabila Israel percaya mereka meniru ibadat para malaikat, Gereja sebagai Israel baru bahkan dilayakkan untuk turut serta dalam liturgi surgawi tersebut. Saat Gereja merayakan Misa, langit-langit gereja terbuka, para malaikat turun memenuhi seluruh ruang dan bermadah bersama kita. Tahta Allah tampak dan lihatlah! Diiringi pujian abadi,”Kuduslah Allah segala kuasa!”, Anak Domba Allah merendahkan dirinya demi menjadi santapan rohani kita. Surga sedekat paroki kita masing-masing.

Di dalam liturgi duniawi, kita mengambil bagian dalam Liturgi surgawi dengan mencicipi terlebih dahulu apa yang dirayakan dalam Kota Suci Yerusalem, kemana kita beranjak sebagai peziarah, dimana Kristus bertakhta di sisi kanan Allah, sebagai Pelayan tempat tersuci dan tabernakel sejati. (Sacrosanctum Concillium 8)

Misa : Penggenapan Paskah Yahudi dan Kurban Abadi

Banyak cibiran bahwa Misa mengulang-ulang kurban Kristus muncul karena kurangnya pemahaman akan realita sejati Misa. Allah menata seluruh dunia yang terlihat acak ini dalam pola dan keteraturan, seperti tata surya, musim, waktu, termasuk keteraturan ibadat dalam kerangka rencana keselamatan. Dalam ibadat Yahudi Kuno, Paskah merupakan perayaan yang sangat penting karena Allah menyelamatkan Israel dari perbudakan  Mesir dan mengadakan perjanjian dengan mereka (Kej 21:22-32). Salah satu komponen penting dalam Paskah adalah anak domba tidak bernoda yang dikurbankan dan dimakan bersama-sama.

Pada malam eksodus, Allah memerintahkan Israel untuk menyembelih seekor anak domba jantan yang tidak bernoda. Darah anak domba tersebut dioleskan pada jenang pintu dan dagingnya dimakan tanpa sisa (Kel 12:1-23). Jika ini tidak mereka lakukan, anak sulung beserta anak sulung ternak mereka akan mati. Anak domba tersebut merupakan tebusan, mati untuk menggantikan anak sulung bangsa Israel. Selain itu, Allah juga menjadikan mereka umat pilihan, bangsa yang kudus, dan mengikat mereka dengan perjanjian yang dimeteraikan dengan kurban. Umat Israel harus memakan anak domba kurban tersebut sebagai pembaharuan janji antara mereka dengan Allah. Bahkan, Ia memberikan kata-kata yang harus dijelaskan kepada generasi selanjutnya mengenai Paskah tersebut (Kel 12:26-27). Persembahan tersebut terus dilakukan untuk mengenang peristiwa tersebut dan diatur oleh Hukum Taurat dalam kitab Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Setiap kali mereka mengadakan Paskah, mereka menghayati bahwa mereka seakan dibawa melintasi waktu dan generasi kembali ke malam eksodus yang penuh kemenangan tersebut.

Anak domba jantan yang tak bercela tersebut merupakan gambaran dari Kristus, Anak Domba Sejati. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus menggunakan bahasa imam untuk mengungkapkannya,” Inilah TubuhKu yang diserahkan bagimu… Cawan ini adalah perjanjian baru ooleh DarahKu, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20). Bagi para Yahudi kuno, gaya bahasa ini jelas berkaitan dengan kurban. Karena perjamuan terakhir diadakan berdekatan dengan Paskah, perhatian para murid langsung tertuju pada anak domba kurban Paskah.

Sebagai ganti anak domba, Kristus menyatakan dirinya sebagai Anak Domba yang dikurbankan. Saat Kristus berdiri di hadapan Pilatus, St. Yohanes mencatat,”Hari itu adalah hari persiapan paskah, kira-kira jam dua belas” (Yoh 19:14). St. Yohanes tahu bahwa pada waktu tersebut, para imam mulai mempersembahkan kurban anak domba. Ketika berada di atas salib, Yesus diberi minum anggur asam dari bunga karang yang dicucukkan pada sebatang hisop (Yoh 19:29). Hisop merupakan tanaman yang harus digunakan menurut Hukum Paskah untuk mencipratkan darah anak domba (Kel 12:22). Sampai selesai disalibkan, tidak satupun tulang Yesus yang dipatahkan (Yoh 19:36) untuk menggenapi bahwa anak domba Paskah harus memiliki tulang yang tidak dipatahkan (Kel 12:46). Semua hal ini merupakan penggenapan kurban Paskah yang lama melalui Kristus, kurban Paskah Baru untuk Perjanjian Baru.

Misa merupakan Paskah Baru yang telah digenapi Yesus dimana Umat Israel Baru, Gereja, hadir dalam Perjanjian yang Baru dengan Allah. Perjanjian ini diadakan melalui kurban Anak Domba yang Sejati, Kristus, dan disahkan saat umatnya makan kurban tersebut dalam Perjamuan Ekaristi. Hanya Kristus, kurban yang sempurna (Ibr 10:14), yang berkenan pada Allah dan memungkinkan Gereja untuk menyembah dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:23-24) melalui Misa. Sama dengan penghayatan Paskah, Gereja dibawa melintasi waktu dan generasi berkumpul di meja Perjamuan Terakhir dan Kalvari, momen penggenapan rencana keselamatan.

Inilah sebabnya Kristus ditampilkan sebagai Anak Domba Allah yang tampak telah disembelih dalam kitab Wahyu. Dalam Wahyu 5:6, terlihat gulungan (biblion (Yun); dokumen tertulis) sebagai lambang Perjanjian baru yang hanya dapat dibuka oleh Anak Domba Allah2. Anak Domba Allah tersebut nampak seperti telah disembelih sebagai lambang Kristus yang memberikan dirinya sebagai persembahan Paskah abadi untuk Allah Bapa. Dengan persembahan abadiNya, Gereja tidak perlu lagi melakukan persembahan binatang dan bakaran melainkan “persembahan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan pada Allah” (Rom 12:1-2). Persembahan hanya berkenan pada Allah saat disatukan dengan kurban Kristus.

Misa : Parousia Kristus yang DijanjikanNya

Kedatangan Kristus selalu dikaitkan hanya dengan kedatangan Kristus pada akhir zaman dengan kemuliaanNya yang tampak secara kasat mata. KedatanganNya melulu dikaitkan dengan akhir dari dunia. Kedatangan Kristus juga sering dikaitkan pada Penghakiman Akhir dimana semua orang diadili berdasarkan perbuatan masing-masing. Padahal, Parousia (kedatangan kembali) Yesus lebih dari sekedar suatu akhir, melainkan suatu permulaan, sebuah Yerusalem baru, sebuah Perjanjian baru, sebuah surga dan bumi yang baru. Kitab Wahyu juga ternyata menceritakan kedatangan Kristus disaat Ekaristi.

Kristus pernah bersabda,” Mulai sekarang ini engkau tidak akan melihat Aku lagi sampai engkau berkata, ‘Diberkatilah Dia yang datang atas nama Tuhan ‘” (Mat 23:39). Sesungguhnya, jika kita cukup cermat dalam mengamati, kita akan tahu bahwa nubuat ini dipenuhi mulai dari saat pertama kali kita menghadiri Misa. Gereja dengan tepat menempatkan nyanyian Kudus sebelum Konsekrasi dimana esensi hosti benar-benar berubah berkat Roh Kudus menjadi Tubuh Kristus sendiri. Setiap saat Misa dilangsungkan, saat itulah Kristus datang kembali ke dunia.

Iman akan Parousia Kristus dalam Ekaristi telah hadir sejak awal kelahiran Gereja. Doa Syukur Agung tertua, Didakhe (ditulis paling lambat 48 Masehi), diakhiri dengan seruan,”Maranatha!”. Liturgi Yerusalem kuno dari St. Yakobus memaklumkan : ”Biarlah semua daging yang dapat mati menjadi kelu, dan biarlah mereka berdiri ketakuaan serta gemetar, da biarlah mereka tidak memedulikan apa yang melulu duniawi : sebab Raja para raja dan Tuhan pada tuan, Kristus Allah kita, sudah datang!” Liturgi Mesir dari Santo Sarapion memaklumkan : “Korban ini penuh dengan kemuliaanMu” Kutipan senada dapat ditemukan dalam liturgi Santo markus, liturgi Santo Hippolitus, Konstitusi Apostolik, Liturgi Santo Yohanes Kristostomus, liturgi Santo Sirilus dari Aleksandira, dan juga Kanon Romawi.  Kata yang sama ditemukan di akhir Kitab Wahyu. Pada tahun 1977, Ratzinger, Paus Gereja saat ini, mengatakan :

Arti dari seruan maranatha sebenarnya cukup jelas. Seruan tersebut dapat dibaca sebagai permohonan : “Datanglah, Tuhan!” atau pernyataan :”Tuhan telah datang!”

Penggambaran kosmis dalam Perjanjian Baru tidak dapat dijadikan sumber deksripsi dari kejadian kosmik masa depan.. Alih-laih, teks tersebut merupakan deskripsi misteri Parousia dalam bahasa tradisi liturgy… Setiap Ekaristi adalah Parousia, kedatangan Tuhan, dan bahkan Ekaristi sejatinya merupakan kerinduan kuat dimana Allah ingin menyatakan kemuliaanNya yang tersembunyi.

Para teolog menyebut “kedatangan” Kristus pada akhir zaman sebagai “parousia penuh” bukan karena di hari itu Kristus akan tampil dengan kepenuhan lebih total. Kristus akan datang dengan kepenuhan kemuliaan yang sama dengan setiap saat Ekaristi, namun kemuliaan yang tersembunyi tersebut akan tersingkap pada kedatangan di akhir zaman tersebut. Katekismus merangkum seluruh ajaran kuno tetapi aktual tersebut,”Gereja menyadari bahwa sekarang ini pun Tuhan datang dalam EkaristiNya dan Ia hadir di tengah-tengah kita. Tetapi, kehadiranNya terselubung” (KGK no 1404).

Sekarang, dimanakah di dunia ini dapat kita temukan gereja universal yang cara penyembahannya benar menurut penglihatan Yohanes? Dimanakah dapat kita temukan imam-imam yang memakai pakaian kebesaran berdiri di depan altar? Dimanakah kita temukan orang-orang yang dikuduskan untuk selibat? Dimanakah kita mendengar para malaikat berdoa? Dimanakah kita dapat menemukan Gereja yang menyimpan relikui para suci di altarnya? Dimanakah terdapat seni yang menyanjung-nyanjung perempuan yang bermahkota bintang-bintang, dengan bulan di kakinya, yang menghancurkan kepala si ular? Dimanakah terdapat orang-orang beriman berdoa untuk memohon perlindungan St.Michael, malaikat tertinggi? Dimana lagi kalau bukan dalam Gereja Katolik, dan terutama dalam Misa Kudus?

Dengan merenungkan dan memahami ajaran iman ini, kita dapat benar-benar menghayati bahwa Misa Kudus merupakan pengalaman surgawi, terlepas dari rasa bosan yang sering menyerang, godaan untuk bergunjing, tangisan suara bayi, anak-anak kecil yang berulah, madah koor yang fals, homili yang membosankan, dan busana umat yang lebih cocok untuk kelab malam. Dengan merenungkan dan memahami iman yang sama dengan para Rasul ini, kita bertemu lagi, lagi, lagi, dan lagi dengan Kristus, hingga akhir zaman nanti.

Perbandingan isi Wahyu dengan Liturgi Misa

Ibadat di hari Minggu 1:10
Imam agung 1:13
Sebuah altar 8:3-4; 11:1; 14:18
Imam-imam 4:4; 11:16; 14:3; 19:4
Jubah-jubah 1:13; 4:4; 6:11; 7:9; 15:6; 19:13-14
Selibat yang dikuduskan 14:4
Kaki dian atau Menorah 1:12; 2:5
Melakukan pertobatan Bab 2 & 3
Dupa 5:8; 8:3-5
Kitab atau Gulungan Kitab Why 5:1
Hosti Ekaristi 2:17
Piala-piala 15:7; bab16; 21:9
Tanda salib (tau) 7:3; 14:1; 22:4
Kemuliaan 15:3-4
Alleluya 19:1, 3, 4, 6
Arahkan hatimu 11:12
Kudus, kudus, kudus 4:8
Amin 19:4; 22:21
Anak Domba Allah 5:6 dan seterusnya
Pentingnya Perawan Maria 15:1
Permohonan pada malaikat dan kudus 5:8; 6:9-10; 8:3-4
Devosi pada St.Mikhael 12:7
Nyanyian antiphon 4:8-11; 5:9-14; 7:10-12; 18:1-8
Imamat orang percaya 1:6; 20:6
Kekatolikan atau universalitas 7:9
Kontemplasi hening 8:1
Perjamuan kawin Anak Domba 19:9, bdk. 19:17

 

Sumber Pustaka

  1. Liturgy of the Mass“. Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 1913.
  2. “Eucharist: Holy Meal” dalam video “Catholic Adult Education on Video Program” with Scott and Kimberly Hahn. 1996
  3. Hahn, S & Flaherty, R.J. 2008. Catholic For A Reason III : Scripture and The Mystery of The Mass. Dioma : Malang.
  4. Ratzinger. 1988. Eschatology: Death and Eternal Life. Catholic Univ. of America Press, 1988 [1977], pp. 5-6 (original emphasis).
  5. Roberts. A & Donaldson, J. ed. 1994. “The Cherubim Hymn” dalam The Divine Liturgy of Saint James, the Holy Apostle and Brother of The Lord, Bab II, dalam Ante-Nicene Gathers, jilid 7, ed. Alexander Roberts dan James Donaldson. Peabody, MA : Hendrickson, 1994, 540.
  6. John Wordsworth, editor dan penerjemah. 1899. Bisop Sarapion’s Prayer Book : An Egyptian Summary Dated Probably about AD 350-356. London : Society for Promoting Christian knowledge, 1899, 61.
  7. Jerome Gassner, O.S.B., The Canon of The Mass [kanon Misa] (New York: Herder, 1950).

About the Author

admin


0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response

(required)